[ad_1]

 
Foto :Ilustrasi matahari

LancangKuning.Com, JAKARTA  – Layanan pemantau satelit Uni Eropa mengungkapkan bahwa bulan lalu atau September 2019 dinyatakan sebagai bulan terpanas dalam sejarah. Dikatakan selama empat bulan berturut-turut suhunya sudah mendekati rekor yang pernah ada.

Baca Juga: Tempat Wisata di Riau

Dikutip dari situs GMA News Online, Minggu, 6 Oktober 2019, layanan iklim Copernicus menyatakan bahwa September 2019, suhunya lebih panas 0,57 celcius dibanding rata-rata historis, setara dengan suhu pada September 2016.

Baca Juga: Edukasi Pelajar Tentang Kebudayaan SEF Tajah Festival Budaya Melayu

Sebenarnya bulan lalu angkanya lebih tinggi 0,2 celcius, tapi layanan itu memutuskan keduanya memiliki rekor yang sama. Data juga membuktikan bahwa pada periode Juni tahun ini, menjadi Juni terhangat dalam sejarah.

Sedangkan Agustus jadi nomor dua terhangat sejak pencatatan iklim dimulai. Copernicus menyatakan bahwa data yang mereka catat adalah sebagai bukti bagaimana Bbmi memiliki tren pemanasan jangka panjang.

Mereka memanfaatkan citra satelit untuk mengamati iklim. Layanan juga mengklaim bahwa Amerika Serikat bagian tengah dan timur, daratan tinggi Mongolia dan Kutub Utara suhunya meningkat lebih signifikan. Sedangkan suhu di Eropa lebih rendah dari rata-rata September.

Bacca Juga:  Ini Visi-Misi Calon Ketua PWI Inhil Periode 2019-2022

“Suhu di September telah memecahkan rekor. Menjadi pengingat yang mengkhawatirkan tentang tren pemanasan jangka panjang yang diamati secara global,” ujar Direktur Copernicus, Jean-Noel Thepaut.

Baca Juga: Makanan Khas Pekanbaru

Ia melanjutkan, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan telah meningkatkan suhu dan akan terus merusak di masa depan. Bumi telah menghangat di atas 1 derajat celcius sejak zaman pra-industri dan meningkat setiap tahun. (LKC)



[ad_2]

>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here