[ad_1]

loading…

JAKARTA – Transformasi ke arah digital harus dilakukan. Jika dahulu ekosistem digital hanya sebagai strategi suplemen kepada perusahaan guna mengembangkan produk ataupun pasar, tidak dapat dipungkiri pada era industri 4.0 digitalisasi tak lagi sekadar suplemen, tetapi sudah menjadi konteks yang mewarnai seluruh strategi.

Pakar pemasaran dari Universitas Bina Nusantara Asnan Furinto mengatakan, perbedaan dari setiap perusahaan bisa dilihat dari tingkat penggunaan teknologinya semua tergantung sektor industrinya. Industri perbankan yang paling terlihat mengalami transformasi. Adanya financial technology (Fintech) awalnya menjadi ancaman namun perlahan bank mulai berubah. Perbankan yang selama ini menjadi perusahaan yang sudah eksis puluhan tahun nyatanya harus ikutan juga bertransformasi.

“Perbankan sadar bahwa mereka tidak membuat bisnis baru masuk digital mereka bisa ketinggalan. Misalnya Jenius dari BTPN cukup diminati kaum milenial,” ungkapnya.

Hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan yakni dengan membuat sendiri teknologi mereka atau paling tidak yang harus dilakukan bekerja sama dengan pengembang teknologi untuk membuat layanan seperti fintech. Perusahaan sebenarnya bukan harus total berubah, namun mencari perpaduan yang sesuai antara konvensional dan digital. “Harus diperhatikan kembali sebesar apa porsi dari digitalnya sesuai tidak dengan karakteristik bisnisnya,” tambahnya.

Transformasi dapat dilakukan perusahaan di semua sektor untuk melebarkan sayap, membuka ruang yang lebih luas. Mulai pasar, produk baru, bahkan model bisnisnya jika digital dapat membuat kerja karyawan berubah.

Asnan menyebut, PLN yang kini mengembangkan pasarnya sebagai penyedia internet dengan nama Stroomnet. PLN merasa memiliki kesempatan karena memiliki jaringan. PLN yang selama ini memiliki corebusiness listrik mulai mengadopsi ekosistem digital.

Dosen pemasaran strategis ini juga mengatakan, sektor bisnis yang kurang bisa bertransformasi digital ialah sektor komoditas non consumer goods. Sebab, mereka bukan bisnis yang mengandalkan pelayanan sehingga brand bukan sesuatu yang penting dan hanya mengandalkan harga.

Selain itu, kata dia, sistem pemasaran beberapa komoditas masih belum bisa masuk ke dalam ekosistem digital. Penggunaan teknologi memungkinkan hanya untuk teknis transaksi. Sektor properti juga lambat untuk bisa bertransformasi. Walaupun sudah mulai beberapa bermunculan smart home atau rumah yang berteknologi tinggi, tapi belum banyak dikembangkan.

Transformasi, kata dia, identik dengan inovasi. Namun, inovasi juga memerlukan konsep dasar yang harus diperhatikan. Salah satunya kesiapan dalam mengadopsi teknologi yang akan dihadirkan.

Pengamat ekonomi Ikhsan Mojo menegaskan, setiap perusahaan mau tidak mau harus melakukan transformasi digital. Tidak sekadar menggunakan perangkat yang canggih, tapi lebih bagaimana konsep digital itu masuk dalam diri perusahaan itu sendiri.

“Sekarang banyak perusahaan yang masuk dunia digital hanya ditandai dengan memiliki akun di media sosial. Namun sekadar memiliki dan tidak diurus, tidak ada kedekatan dengan konsumen, tidak memaksimalkan fungsi dari media sosial itu,” jelasnya.

Menurut dia, yang dilakukan itu justru hanya pencitraan kosong. Bahkan, saat ada komplain dari konsumen tidak ditanggapi. Padahal, masyarakat sudah menganggap media sosial bagian dari perusahaan.

Transformasi ke digital juga harus menyesuaikan dengan gaya dan cara kerja perusahaan teknologi. Menurut dia, beberapa bank besar mencoba masuk dalam digital financing, tetapi belum bisa operasional perusahaan fintech.

Akhirnya bank-bank yang menggunakan nama lain atau mengakuisisi yang sudah berjalan. “Saya menyarankan transformasi dimulai dengan mencari SDM yang mengerti secara total. Merekrut mereka yang ahli, bukan mengambil pihak ketiga,” ujarnya. (Ananda Nararya)

(nfl)

[ad_2]

>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here