Bisnis.com, BALIKPAPAN — Kinerja volume ekspor komoditas utama Provinsi Kalimantan Timur diprediksikan akan mengalami perlambatan setelah terpenuhinya kuota impor batu bara oleh China.

Kepala Bank Indonesia Kalimantan Timur Tutuk Cahyono mengatakan pada akhir Oktober telah terpenuhi batas maksimal kuota impor batu bara China sebesar 281 juta ton.

Dia menambahkan untuk ekspor ke India juga akan mengalami gejala serupa dengan mulai membaiknya produksi domestik akibat cuaca yang lebih kondusif pada akhir tahun untuk dilakukan penambangan.

“Faktor harga batu bara acuan (HBA) juga masih berada dalam tren yang menurun dan tercatat menyentuh level US$65,79/mt mengalami kontraksi sebesar 37,23% secara tahunan,” jelasnya kepada Bisnis Jumat (8/11/2018).

Namun demikian risiko tersebut masih bisa tertahan adanya potensi peningkatan ekspor kelapa sawit mentah (CPO) ke India sejalan dengan hubungan India dengan Malaysia yang tengah memanas. Negeri jiran tersebut adalah salah satu pemasok CPO utama ke India.

Tutuk mengharapkan ke depannya, di samping ekspor barang, Kaltim berpotensi besar meningkatkan ekspor jasa, terutama jasa pariwisata berbasis alam dan budaya.

“IKN adalah momentum mendorong pariwisata yang selama ini sering mengalami hambatan terkait infrastruktur dan lainnya,” imbuhnya.

Mengingat dampak positif IKN salah satunya akan meningkatkan pembangunan infrastruktur di Kaltim.

Hal ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing Kaltim sebagai tempat investasi dalam mendiversifikasi dan menghilirisasikan produk bernilai tambah tinggi. Hal ini yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas ekspor dari Kaltim.





>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here