[ad_1]

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga komoditas batu bara ditutup menguat pekan lalu. Namun penguatan harga batu bara masih belum ditopang oleh fundamental yang membaik secara signifikan.

Akhir pekan lalu, harga batu bara kontrak ICE Newcastle ditutup menguat 1,25% menjadi US$ 68,65/ton. Sepanjang pekan kemarin, harga batu bara telah naik 3,2%.





Saat ini harga batu bara belum ditopang dengan fundamental yang terlalu kuat. Melansir Reuters, kebutuhan pembangkit listrik China naik 4% year-on-year pada Oktober, lebih lambat dari bulan sebelumnya yaitu 4,7%.

China mengimpor 280 juta ton batu bara dalam 10 bulan pertama, naik 9,6% YoY. Pada Oktober saja, impor batu bara naik 11,3%.

Impor batu bara China untuk tahun ini diprediksi akan lebih dari 300 juta ton. Namun pengetatan impor batu bara di kuartal IV-2019 masih jadi ancaman.

Menurut data Biro Statistik Nasional China, Negeri Tirai Bambu telah memproduksi 3,06 miliar ton batu bara mentah selama periode Januari-Oktober, naik 4,5% YoY. Sekitar 320 juta ton batu bara mentah diproduksi bulan lalu, naik 4,4% YoY.

Permintaan pembangkit listrik yang tumbuh melambat di China serta keberadaan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan yang semakin terjangkau dan kebijakan bauran energi yang ramah lingkungan di berbagai negara berpotensi membuat harga batu bara tak bergerak banyak dan rawan terkoreksi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(twg/tas)


[ad_2]

>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here