[ad_1]

Bisnis.com, JAKARTA – Pembuatan pakta kerja sama perdagangan preferensial (preferential trade agreement/PTA) dengan Meksiko dibutuhkan untuk mengamankan akses pasar ekspor Indonesia di kawasan Amerika Selatan dan Utara.

Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono mengatakan Indonesia selama ini belum memiliki kerja sama dagang bebas dengan negara-negara kawasan Amerika Utara.

Menurutnya, satu-satunya akses Indonesia menjamah pasar Amerika Utara melalui perdagangan bebas adalah menggunakan Asean-Kanada Free Trade Agreement (FTA).

“Kawasan Amerika Utara sejauh ini masih belum banyak terjamah oleh kerja sama dagang yang kita buat. Fokus kita selama ini kebanyakan ke Afrika dan Asia. Pembentukan kerja sama dagang bilateral dengan Meksiko bisa menjadi opsi bagi Indonesia untuk mengamankan pasar Amerika Utara,” katanya, ketika dihubungi Bisnis.com, Minggu (17/11/2019).

Selain itu, menurutnya, Meksiko memiliki posisi yang strategis lantaran bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk ekspor Indonesia menuju kawasan Amerika Latin. Untuk itu dia menilai pembentukan kerja sama dagang berupa PTA bisa menjadi langkah awal untuk membuka jalur ekspor ke Amerika Utara.

Kerja sama dalam bentuk PTA dengan Meksiko dinilainya lebih realistis untuk diselenggarakan lantaran proses negosiasinya tak membutuhkan waktu yang panjang.

Di sisi lain, melalui PTA, Indonesia bisa memaksimalkan peluang ekspor terhadap komoditas-komoditas potensial sebelum akhirnya diperluas dalam bentuk kerja sama dagang yang lebih komprehensif.

“Selain itu, kita harus sadar, untuk menjalin kerja sama dagang bebas dengan AS cukup sulit, di tengah kebijakan negara tersebut yang memberlakukan proteksionisme. Untuk itu, cara yang bisa kita tempuh dengan menjalin kerja sama dengan negara tetangga AS, seperti dengan Meksiko contohnya,” ujarnya.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan pembentukan PTA dengan Meksiko merupakan langkah strategis bagi Indonesia.

Pasalnya, dengan adanya pembebasan tarif impor terhadap sejumlah barang menuju Meksiko, akan menjadi insentif bagi eksportir Indonesia untuk mengekspor barangnya ke negara tersebut.

“Selama ini kendala kita ada pada ongkos pengiriman barang akibat jauhnya jarak Indonesia dengan Meksiko. Apabila ada pembebasan bea masuk kepada beberapa produk ekspor kita, tentu hal tersebut akan menarik bagi eksportir kita, karena beban pengiriman barang menjadi berkurang,” katanya.

Dia menyebutkan produk-produk yang berpotensi ditingkatkan ekspornya ke Meksiko a.l. alas kaki, tekstil dan produk tekstil, komponen, baja dan barang mentah seperti batu bara serta minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya.

“Untuk itu, kami berharap pemerintah mengajak pengusaha sejak awal ketika merundingkan kerja sama dagang dengan Meksiko. Supaya kami bisa memberikan masukkan produk-produk ekspor apa saja yang butuh untuk diturunkan bea masuknya ke Meksiko,” katanya.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menyebutkan selama ini kendala Indonesia mengakses pasar Meksiko adalah jarak pengiriman barang yang terlalu jauh. Dalam penelitiannya, kendala tersebut menjadi salah satu penyebab pengusaha Indonesia masih enggan untuk mengakses pasar di negara tersebut.

“Meksiko memiliki pasar yang sangat besar dan karakternya mirip dengan negara kita. Sejumlah negara seperti Jepang dan China bahkan tertarik untuk bekerja sama dagang dengan negara tersebut. Seharusnya hal ini menjadi sinyal yang harus ditangkap oleh pengusaha kita,” katanya.

Fithra menambahkan, pasar di negara Meksiko terbilang menarik. Salah satunya disebabkan oleh maraknya relokasi perusahaan AS menuju ke Meksiko. Hal itu membuat negara tersebut memiliki potensi yang besar bagi Indonesia untuk dijadikan pasar ekspor barang mentah atau barang setengah jadi.

Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini mengakui Meksiko menjadi salah satu target Indonesia untuk dijadikan mitra kerja sama dagang. Terlebih, penjajakan kerja antara Indonesia dengan Meksiko dalam bentuk working group on trade and investment (WGTI) terhenti sejak 2012.

Untuk itu, Indonesia telah mengajak Meksiko untuk kembali membentuk WGTI guna membahas isu-isu serta peluang dagang dan investasi kedua negara. Meksiko menurutnya memiliki pasar yang menarik bagi RI lantaran jumlah penduduknya yang mencapai 400 juta jiwa.

“Kita belum bicarakan secara detail dengan Meksiko apakah akan membentuk PTA, FTA atau CEPA sekaligus. Untuk itu kita akan laksanakan lebih dahulu WGTI untuk memetakan kerja sama seperti apa yang paling realistis dilakukan oleh kedua negara,”  ujarnya.

 Adapun, berdasarkan data Kementerian Perdagangan sepanjang Januari-September 2019 nilai ekspor RI ke Meksiko mencapai US$719,76 juta. Sementara itu nilai impornya sebesar US$198,77 juta sehingga RI mencatatkan surplus neraca perdagangan sebanyak US$520,98 juta.

Produk ekspor utama RI ke Meksiko a.l. kendaraan bermotor,suku cadang dan aksesori kendaraan bermotor, alas kaki dari kulit, karet alam, alas kaki dari tekstil, dan kakao. Sementara itu, produk impor utama RI dari Meksiko di antaranya pesawat telepon, mesin pengolah data otomatis, kapas, traktor serta sirkuit terpadu elektronik dan rakitan mikro.



[ad_2]

>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here