[ad_1]

Kemerdekaan Indonesia di tangan Romusha bernomor lengan 970.

Oleh Darmawan Sepriyossa, Mantan Jurnalis Republika

“Kalau Dai Nippon sekarang juga memberikan kemerdekaan kepada saya, maka saya tidak akan menerima.” Suara Bung Karno tegas ketika rangkaian kalimat itu meluncur dari mulutnya.

Tegas, tak hanya karena ia ingin menguatkan sikapnya, tapi juga segera hendak mengakhiri perdebatan yang menurutnya debat kusir dengan lelaki kecil bertopi mandor onderneming yang ngotot itu.

Pelan-pelan Bung Karno mengenali lelaki itu. Benar, dia Tan Malaka, pejuang yang selama ini menghilang dikejar-kejar tak hanya dinas intelijen Hindia Belanda (PID), atau Kempeitay Jepang, tapi juga semua aparat penjajah: Inggris, Amerika. Bung Karno melihat lelaki yang mengaku bernama Ilyas Hussein itu sigap hendak merebut mikrofon, hanya gagal karena Son Co wilayah Bayah lebih dulu mengambilnya.

Maka, perdebatan pun berakhir, hingga pertemuan itu usai, bahkan sampai Sukarno dan rombongan pulang ke Jakarta, beberapa hari kemudian.

Hasil gambar untuk tan malaka dan soekarno

   Keterangan foto: Soekarno dan Tan Malaka saat rapat akbar di Lapangan Ikada (sekarang kawasan Monas), Jakarta.

Adegan itu terekam dalam buku Harry A Poeze, penulis paling otoritatif tentang Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, terbitan Grafiti Pers. Bung Karno, dalam kampanye untuk menarik rakyat menjadi Romusha–sering diartikan sebagai kerja paksa khas Jepang, sempat mengunjungi Bayah, Banten Selatan. Itulah wilayah tempat romusha dipekerjakan untuk membangun jaringan rel kereta api Saketi-Bayah, sepanjang 150-an km.

Bung Karno datang bersama Bung Hatta dan para anggota Jawa Hokokai. Kedatangan itu bagian dari kampanye Bung Karno untuk bekerja sama dengan Pemerintah Pendudukan Jepang, yang ia yakini akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sebelumnya, pada 3 September 1944, Bung Karno telah memberangkatkan 500-an romusha ke Burma.

Para romusha itu berangkat dengan bangga, diiringi pidato Sukarno. “Tujuan usaha ini adalah untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon. Kita berjanji tidak akan bercukur selama pengabdian sebagai romusha sebagai tanda bukti kepada negara,” kata Bung Karno, seperti tertuang dalam buku yang ditulis Aiko Kurasawa.

Bung Karno sendiri datang ke Bayah sebagai romusha. Pada lengannya tertulis pita besar bernomor 970. Romusha bernama Sukarno itu ditulis koran-koran zaman itu tinggal di pondokan sederhana yang dibuat untuk romusha dan makan makanan mereka. Koran juga memuat foto saat Bung Karno mengangkat karung pasir dalam pekerjaan sehari-hari ‘pejuang pekerja’ itu. Bedanya, Bung Karno dan rombongan beberapa hari kemudian pulang ke Jakarta dan para romusha asli tidak.

Hasil gambar untuk Romusha

Pada saat acara penyambutan kedatangan Bung Karno and the gank itulah terjadi perdebatan antara Bung Karno dan ‘Ilyas’ Tan Malaka. Pidato Sukarno yang menyebut Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan Sekutu dan setelah itu Jepang memberikan kemerdekaan buat Indonesia dibantah Tan Malaka. Itulah perbedaan sikap kedua pemimpin, pejuang yang sama-sama mencita-citakan kemerdekaan Indonesia itu.

Kita tahu, soal romusha sering kali menjadi titik hitam yang kerap dialamatkan kepada hidup Bung Karno. Pasalnya, sebagaimana kerja paksa yang digelar Jepang di sepanjang Nok Pla Duk (Thailand) ke Thanbyuzayet (Burma), yang menurut sejarahwan Aiko Kurasawa menyebabkan kematian 30 ribu romusha–di antaranya asal Indonesia, demikian pula di pembuatan rel Saketi-Bayah. Ribuan romusha mati kelaparan dan diserang penyakit. Dalam catatannya, Tan Malaka menulis, di sarang malaria dan kolera itu, setidaknya 300-an romusha mati setiap bulan.

Namun, bukankah manusia memang layak punya cela? Bung Karno sendiri bukan seorang berhati keras membatu. Kepada penulis biografinya, Cindy Adam, almarhum menyampaikan pengakuan, yang lebih laik disebut sebuah penyesalan.

“Sesungguhnya akulah Sukarno yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan–kepala pemerintahan militer, dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batu bara dan tambang emas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”

Hasil gambar untuk Romusha

 



[ad_2]

>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here