Upaya dunia untuk menghentikan perubahan iklim belum memadai sama sekali.

 

MADRID – Sekretaris Jen­deral Perserikatan Bang­sa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menegaskan dunia harus berhenti menggali serta mengebor, dan mulai meman­faatkan energi terbarukan.

Guteres menyerukan dunia mengerahkan segala daya un­tuk mengurangi emisi. Upaya dunia untuk menghentikan perubahan iklim belum me­madai sama sekali.

“Dunia punya ilmu pengetahuan dan teknis untuk membatasi pemanasan global, yang kurang hanyalah ikti­kad politik. Kita dihadapkan dengan krisis iklim global dan mendekati titik tidak bisa kem­bali lagi yang sudah di depan mata,” kata Guterres menyam­but Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference/COP) ke-25, di Madrid, Minggu (1/12) waktu setempat.

Perwakilan dari 200 negara di seluruh dunia pada 2–13 Desember 2019 akan berusaha melakukan finalisasi aturan perubahan iklim Paris 2015. Di antara hal yang akan diba­has adalah bagaimana men­ciptakan sistem perdagangan internasional yang ramah lingkungan dan membantu negara-negara miskin yang menderita akibat kenaikan air laut serta konsekuensi lainnya karena perubahan iklim.

Dalam kesepakatan peruba­han iklim Paris 2015, disetujui untuk membatasi perubahan iklim di bawah 2 derajat Cel­sius. Rata-rata suhu bumi saat ini sudah naik sekitar 1 dera­jat Celsius sehingga sulit me­matok target ambisius bagi penurunan pemanasan global. Sekarang ini sudah muncul tuntutan dari generasi muda agar dilakukan lebih banyak tindakan penyelamatan bumi.

“Perang kita melawan alam harus dihentikan, dan kita tahu itu mungkin,” katanya.

Timbulkan Malapetaka

Sementara itu, organisasi bantuan Oxfam mengingatkan bahwa bencana terkait iklim seperti banjir dan kebakaran hutan mendorong jutaan orang mengungsi setiap tahun. Oxfam juga mengingatkan, meskipun “tidak ada yang ke­bal” pada dampak perubahan iklim, namun orang-orang di negara-negara miskin yang paling berisiko.

Selama dekade terakhir, bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim telah mendorong lebih 20 juta orang setiap tahun meninggalkan rumah mereka, kata laporan terbaru Oxfam yang dirilis hari Senin (2/12).

Laporan itu meneliti jum­lah orang yang terpaksa harus mengungsi di negara mereka akibat bencana yang dipicu pe­rubahan iklim antara 2008 dan 2018, berdasarkan data-data pemerintah, badan internasi­onal dan laporan media.

“Asia adalah benua yang paling terkena dampak pe­rubahan, kata Oxfam. Sekitar 80 persen orang yang men­gungsi karena bencana iklim selama dekade terakhir tinggal di Asia,” kata laporan itu.

Chema Vera, Penjabat Di­rektur Eksekutif Oxfam In­ternational, menjelaskan ke­mungkinan orang-orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah, seperti India, Nigeria, dan Bolivia tersingkir oleh bencana cuaca ekstrem empat kali lebih daripada orang-orang di negara-negara kaya seperti Amerika Serikat. ang/AFP/P-4



>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here