Rusia akan Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Pertama di Kawasan Asia Tengah di Uzbekistan

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 29 Mei 2024 - 07:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Rusia Vladimir Putin. (Instagram.com/@russian_kremlin)

Presiden Rusia Vladimir Putin. (Instagram.com/@russian_kremlin)

DUNIAENERGI.COM – Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev mengumumkan pada Senin (27/5/2024) bahwa Rusia akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berskala kecil di Uzbekistan.

Proyek tersebut merupakan PLTN pertama di Asia Tengah pasca-Soviet.

Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang sedang melakukan kunjungan resminya ke negara tersebut.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika kesepakatan nuklir tersebut berhasil terealisasi, kemampuan Rusia akan meningkat karena tidak hanya mengekspor energi, tetapi juga dalam produk teknologi tinggi ke pasar-pasar baru di Asia.

Hal itu terjadi di tengah meningkatnya tekanan dan sanksi dari negara-negara Barat terhadap Rusia.

Putin mengatakan bahwa Rusia akan menggelontorkan $400 juta ke dalam dana investasi bersama yang diperkirakan mencapai $500 juta untuk membiayai proyek-proyek di Uzbekistan.

Baca artikel lainnya di sini : Prabowo – Gibran Disambut Jajaran Petinggi Pemerintahan UEA, Penuhi Undangan Mohamed bin Zayed

Mirziyoyev juga menyatakan minat mereka untuk membeli lebih banyak minyak dan gas dari Rusia.

Suatu perubahan dari praktik yang berlangsung puluhan tahun di mana selama ini Moskow mengimpor hidrokarbon dari Asia Tengah.

Baca artikel lainnya di sini : Penjelasan Istana Soal Presiden Jokowi yang Dipastikan Tak Hadir di Rakernas PDI Perjuangan

Presiden Uzbekistan menggambarkan kunjungan Putin sebagai sesuatu yang “bersejarah.”

“Ini menandai dimulainya era baru dalam kemitraan strategis komprehensif dan hubungan aliansi antar negara kita,” katanya.

Putin juga menyebut Tashkent merupakan “mitra strategis dan sekutu yang dapat diandalkan” bagi Moskow.

Menurut dokumen yang dirilis oleh Kremlin, perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, akan membangun hingga enam reaktor nuklir dengan kapasitas masing-masing sebesar 55 megawatt di Uzbekistan.

Proyek ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang disepakati pada 2018, yaitu sebesar 2,4 gigawatt, yang masih harus diselesaikan.

Di lima negara bekas Uni Soviet di Asia Tengah, tidak ada PLTN satu pun, meskipun Uzbekistan dan tetangganya Kazakhstan, telah lama menyatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang memerlukan PLTN.

Dikutip dari VOA Indonesia, Uzbekistan dan Kazakhstan adalah negara produsen uranium.

Namun proyek Kazakh baru dapat dilanjutkan setelah referendum nasional yang belum dijadwalkan.

“Hampir semua negara terkemuka di dunia menjamin keamanan energi dan pembangunan berkelanjutan dengan bantuan energi nuklir,” kata Mirziyoyev.

Uzbekistan pada Oktober mulai mengimpor gas alam dari Rusia melalui pipa yang sebelumnya digunakan untuk mengalirkan gas ke arah sebaliknya.

Hal itu dilakukan menyusul adanya upaya Rusia untuk mengalihkan ekspor gasnya ke Asia akibat perselisihan dengan Barat terkait Ukraina.

Walaupun Uzbekistan masih mempertahankan produksi gas yang besar, sekitar 50 miliar meter kubik per tahun.

Tetapi negara itu mengalami kesulitan dalam memenuhi sepenuhnya permintaan domestik.

Pasokan dari Rusia sangat membantu negara itu terhindar dari krisis energi.

“Ekspor (gas) berjalan jauh lebih cepat dari jadwal dan kami siap meningkatkan volumenya jika diperlukan,” kata Putin.

Menurut Mirziyoyev, Tashkent juga ingin meningkatkan impor minyak Rusia.

Kedua pemimpin juga mengatakan pemerintah mereka sedang mengerjakan proyek-proyek besar di bidang pertambangan, logam, dan bahan kimia.

Uzbekistan, yang ekonominya sangat tergantung pada devisa dari pekerja migran yang bekerja di Rusia, memilih tetap menjalin hubungan dekat dengan Moskow meskipun Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

Namun, Mirziyoyev dan pemimpin lain di wilayah tersebut tidak pernah mengungkapkan dukungan terhadap apa yang disebut Kremlin sebagai operasi militer khusus di Ukraina.

Semua negara di kawasan tersebut juga berkolaborasi dengan Barat dalam sejumlah proyek, seperti rute pengiriman kargo yang dirancang untuk menghindari Rusia.***

Sempatkan juga untuk membaca berbagai berita dan informasi lainnya di media online Ekbisindonesia.com dan Infomaritim.com

Sedangkan untuk publikasi press release di media online ini, atau pun serentak di puluhan media ekonomi & bisnis lainnya, dapat menghubungi Rilisbisnis.com.

WhatsApp Center: 085315557788, 087815557788, 08111157788.

Jangan lewatkan juga menyimak berita dan informasi terkini mengenai perkembangan dunia politik, hukum, dan nasional melalui Hello.id

 

Berita Terkait

Lonjakan Harga Minyak Dipicu Ketegangan AS-India Soal Impor Rusia
PLTN Eropa Kolaps Saat Musim Panas, Konsumsi Listrik Meningkat Drastis
Perang Dagang Baru? Brasil Bersiap Hadapi Tarif AS dan Lindungi Energi Masa Depan
32 Orang Luka, Kapal Kargo Tabrak Kapal Tanker BBM Jet Militer Amerika Serikat di Pantai Inggris
Perusahaan Minyak Raksasa Tiongkok CNOOC Temukan Ladang Minyak dan Gas di Weizhou
Presiden AS Donald Trump Beri Waktu Satu Bulan, Chevron Diminta Hentikan Operasi Bisnisnya di Venezuela
Produksi Minyak Mentah dan Gas Alam Tiongkok Lampaui 400 Juta Ton Setara Minyak, untuk Pertama Kali
Tak Tersedia Lagi di App Store dan Google Play Store di AS, Penguman Resmi Aplikasi Asal Tiongkok Tiktok

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 14:24 WIB

Lonjakan Harga Minyak Dipicu Ketegangan AS-India Soal Impor Rusia

Senin, 4 Agustus 2025 - 10:46 WIB

PLTN Eropa Kolaps Saat Musim Panas, Konsumsi Listrik Meningkat Drastis

Rabu, 30 Juli 2025 - 15:52 WIB

Perang Dagang Baru? Brasil Bersiap Hadapi Tarif AS dan Lindungi Energi Masa Depan

Rabu, 12 Maret 2025 - 08:39 WIB

32 Orang Luka, Kapal Kargo Tabrak Kapal Tanker BBM Jet Militer Amerika Serikat di Pantai Inggris

Sabtu, 8 Maret 2025 - 11:59 WIB

Perusahaan Minyak Raksasa Tiongkok CNOOC Temukan Ladang Minyak dan Gas di Weizhou

Berita Terbaru